CIBINONG - Ketua BPPKB Jawa Barat, Ahmad Rifa'i Seftiyadi menghimbau masyarakat khususnya anggota BPPK di seluruh Indonesia bisa menahan diri terkait hasil hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survey yang memenangkan dua pasangan capres cawapres.
Menurutnya, pemilu yang berlangsung tanggal 9 Juli kemarin adalah hajatan politik untuk menentukan masa depan Indonesia kedepan yang lebih baik. “Kalau tujuannya untuk menentukan masa depan lebih baik maka akan sangat kontraproduktif kalau justru diikuti dengan gesekan diantara pendukung hanya karena hasil quick count,” ujar pria yang biasa dipanggil Anton tersebut, di Cibinong, Kamis (10/7).
Dia menegaskan, hasil quick count jelas tidak menjadi acuan penuh untuk menentukan pemenang Pilpres. Dengan begitu, semua lapisan masyarakat terutama pendukung masing masing Capres Cawapres harusnya tidak menjadikan hasil quick count sebagai alasan untuk berbuat anarki atau salaing menyakiti satu sama lain.
“Sebaiknya kita semua bisa menahan diri sambil menunggu hasil real count dari KPU yang sekitar dua minggu lagi sudah bisa di realese,” tandas anggota komisi VIII DPR RI tersebut.
Seperti diketahui, munculnya klaim dua capres yang merasa memenangi Pilpres 2014 berdasar quick count telah memunculkan kegelisahan di masyarakat. hal itu karena ada kekhawatiran akan terjadinya gesekan bahkan konflik diantara pendukung.
Ditegaskan, bangsa Indonesia akan mendapat kerugian besar jika menjadikan quick count sebagai alasan untuk berbuat anarkis. Sementara bangsa Indonesia akan bisa membangun sebuah demokrasi yang lebih mantap dan dewasa kalau tetap tenang dan mengikuti semua prosesi Pilpres. “Dan itu hanya dengan menunggu hasil hitungan KPU untuk bisa menentukan pemenang Pilpres, setelahnya harus legowo dan menerima siapapun yang kemudian muncul sebagai pemenang,” pungkasnya. (zak/dav)
Menurutnya, pemilu yang berlangsung tanggal 9 Juli kemarin adalah hajatan politik untuk menentukan masa depan Indonesia kedepan yang lebih baik. “Kalau tujuannya untuk menentukan masa depan lebih baik maka akan sangat kontraproduktif kalau justru diikuti dengan gesekan diantara pendukung hanya karena hasil quick count,” ujar pria yang biasa dipanggil Anton tersebut, di Cibinong, Kamis (10/7).
Dia menegaskan, hasil quick count jelas tidak menjadi acuan penuh untuk menentukan pemenang Pilpres. Dengan begitu, semua lapisan masyarakat terutama pendukung masing masing Capres Cawapres harusnya tidak menjadikan hasil quick count sebagai alasan untuk berbuat anarki atau salaing menyakiti satu sama lain.
“Sebaiknya kita semua bisa menahan diri sambil menunggu hasil real count dari KPU yang sekitar dua minggu lagi sudah bisa di realese,” tandas anggota komisi VIII DPR RI tersebut.
Seperti diketahui, munculnya klaim dua capres yang merasa memenangi Pilpres 2014 berdasar quick count telah memunculkan kegelisahan di masyarakat. hal itu karena ada kekhawatiran akan terjadinya gesekan bahkan konflik diantara pendukung.
Ditegaskan, bangsa Indonesia akan mendapat kerugian besar jika menjadikan quick count sebagai alasan untuk berbuat anarkis. Sementara bangsa Indonesia akan bisa membangun sebuah demokrasi yang lebih mantap dan dewasa kalau tetap tenang dan mengikuti semua prosesi Pilpres. “Dan itu hanya dengan menunggu hasil hitungan KPU untuk bisa menentukan pemenang Pilpres, setelahnya harus legowo dan menerima siapapun yang kemudian muncul sebagai pemenang,” pungkasnya. (zak/dav)








Tidak ada komentar: